Minggu, 22 Mei 2011

Galau

Aku sepertinya terdampar disebuah kehidupan yang penuh kabut, gelap tak jelas arah mata memandang. Wahai teman dan sahabat bantu jalanku. terkadang aku bertanya pada diri "inikah diriku?".Banyak janji terabaikan, hati tersakiti. Mengapa bisa begini?

Sabtu, 19 Maret 2011

PMI Kota Banda Aceh dalam PRB (Pengurangan Risiko Bencana)


Aceh memiliki luas wilayah 57.365,57 km2, secara geografis terletak pada 2°-6° LU dan 95°-98° BT yang berhadapan langsung dengan samudra Hindia dan Selat Malaka dengan rupa bumi yang sangat variatif, dari kawasan pesisir hingga kawasan dataran tinggi serta dengan kemirangan relative hingga kemiringan curam. Situasi geologis yang rukit ini menjadikan Aceh rentan terhadap bencana alam baik itu bencana hidrologis, meteorologist, geologis dan bencana lainnya. Sejarah kebencanaan di Aceh membuktikan bahwa hampir semua jenis bencana pernah terjadi di Tanah Rencong ini. Mulai dari banjir, tanah longsor, letusan gunung berapi, kekurangan air hingga bencana super dasyat pada 26 Desember 2004 yaitu gempa dan tsunami. Begitu banyak korban jiwa dan kerugian material yang dialami saat bencana datang sehingga memerlukan sebuah langkah kongkrit dari berbagai elemen baik itu pemerintah, lembaga swadaya masyarakat hingga organisasi akademisi.      
Pengurangan Risiko Bencana Berbasis Komunitas adalah bagian penting dalam konsep "membangun kembali dengan lebih baik" yang akan membuat upaya-upaya mitigasi bencana dengan mempertimbangkan keberlanjutan di masyarakat dan membuat Aceh khususnya Kota Banda Aceh menjadi tempat yang aman. Juga mempertimbangkan ancaman-ancaman yang ada sebagai bagian dari arah perencanaan pembangunan Kota yang Bottom-Up dengan dasar partisipatif masyarakat dan mewujudkan Visit Banda Aceh 2011.


Sebagai salah satu upaya pengurangan risiko bencana, PMI Kota Banda Aceh dengan dukungan Palang Merah Amerika telah menjalankan program lanjutan ICBRR Aceh Program  PMI-ARC tahun 2010-2011Periode Des 2010 s/d Okt 2011. Cakupan wilayah program meliputi 8 gampong (Gampong Blang, Lamjabat, Surien, Asoe Nanggroe, Lampaseh Aceh, Deah Glumpang, Punge Ujong dan Deah Glumpang) dan terintegrasi dengan sekolah-sekolah di 8 gampong tersebut dalam kecamatan meuraxa. Hal ini juga selaras dengan visi TDMRC(Tsunami Disaster Mitigation & Research Center) untuk mewujudkan "Meuraxa Siaga" sebagai icon dalam PRB di Banda Aceh.

adapun outcome dari Program ICBRR (Intergrated Comminity Based Risk Reduction) atau lebih dikenal dengan PRBBK (pengurangan risiko bencana berbasis komunitas) yaitu :
Outcome 1  : Meningkatkan kapasitas masyarakat integrasi dengan sekolah untuk siap siaga dan tanggap bencana 
Outcome 2 : Meningkatkan kapasitas Organisasi PMI baik pada level Pusat, Propinsi dan Kab/Kota dalam tanggap bencana dan Manajemen bencana 
Outcome 3 : Memperkuat jejaringan PMI dalam strategi PRB dengan Universitas, Pemerintah dan   Masyarakat sebagai akar rumput

Merealisasikan outcome tersebut sangat bergantung kepada bagaimana kita memahami program. Pemahaman yang utuh dengan menggunakan metode 3P2K (Penguatan,Penyadaran,Pemantauuan dan Pelaporan, Keterbukaan dan Keterlibatan)  dengan mengimplementasikan 7 prinsip pergerakan (Kemanusiaan, kesamaan, kenetralan, kemandirian, kesukarelaan, kesatuan dan kesemestaan) sangat membantu dalam implementasi program. hmmm,..Tentunya setiap kegiatan yang dilakukan mesti sukarela bukan hanya sesukanya dan serelanya. 

Dalam PRB kita dituntut untuk berintegrasi,bersinergi dengan PEMERINTAH dan Stakeholder lainnya sebagai mana diatur dalam UU no 24 Tahun 2007. Semoga Aceh, Khusunya Banda Aceh menjadi pusat pembelajaran dalam mekanisme PRB baik sebelum bencana, saat bencana dan sesudah Bencana.
(diambil dari berbagai sumber)
Oleh : Novri Mihardi, ST Field Officer Program ICBRR/PRBBK
PMI Kota Banda Aceh 

Minggu, 06 Maret 2011

Lhok Seuntang On Memory

Jum'at, 21 Desember 2007

Sebuah kisah untukmu temanku , begini ceritanya
Hari itu yang begitu berkesan, belum pernah kurasakan. Ketika mobil yang kami bawa (aku dan 2 temanku) melaju dengan kecepatan di sebuah jalan yang sempit. Jalan desa yang sesak untuk ukuran mobil kami (truck). Jalan tersebut dipenuhi oleh aspal liar  kotoran lembu yang meriah. Hari yang "indah" karena memang hari jum'at.
Aku bergumam :

Hari yang "Indah".....
Ketika Mobil melaju dengan kecepatan
melontarkan granat-granat alami dari tepi jalan
Menghujani muka-muka beringas pengendara roda dua yang ingin memotong laju kami
Tak sengaja tapi apa daya...
"Keindahan" singgah pada wajah-wajah mereka
Kesal dan marah tertumpah dalam kata dan tingkah
kamipun kebagian "Keindahan" akibat kesal dan marahnya mereka
Begitu Indah....
"Keindahan"  itu melahap wajah dan badan kami hingga lumat
"Keindahan" yang salah tanpa nurani
Allahu Karim...
Semoga keindahan ini menjadi hal-hal yang membuat orang lain bahagia dengannya.
Menikmati keindahan dan bersyukur

SEBUAH KOIN PENYOK

Alkisah, seorang lelaki keluar dari pekarangan rumahnya, berjalan tak tentu arah dengan rasa putus asa. Sudah cukup lama ia menganggur. Kondisi finansial keluarganya morat-marit. Sementara para tetangganya sibuk memenuhi rumah dengan barang-barang mewah, ia masih bergelut memikirkan cara memenuhi kebutuhan pokok keluarganya sandang dan pangan.
Anak-anaknya sudah lama tak dibelikan pakaian, istrinya sering marah-marah karena tak dapat membeli barang-barang rumah tangga yang layak. Laki-laki itu sudah tak tahan dengan kondisi ini, dan ia tidak yakin bahwa perjalanannya kali inipun akan membawa keberuntungan, yakni mendapatkan pekerjaan.
Ketika laki-laki itu tengah menyusuri jalanan sepi, tiba-tiba kakinya
terantuk sesuatu. Karena merasa penasaran ia membungkuk dan mengambilnya.
“Uh, hanya sebuah koin kuno yang sudah penyok-penyok,” gerutunya kecewa. Meskipun begitu ia membawa koin itu ke sebuah bank.

“Sebaiknya koin in Bapak bawa saja ke kolektor uang kuno,” kata teller itu memberi saran. Lelaki itupun mengikuti anjuran si teller, membawa koinnya kekolektor. Beruntung sekali, si kolektor menghargai koin itu senilai 30 dollar.
Begitu senangnya, lelaki tersebut mulai memikirkan apa yang akan dia lakukan dengan rejeki nomplok ini. Ketika melewati sebuah toko perkakas, dilihatnya beberapa lembar kayu sedang diobral. Dia bisa membuatkan beberapa rak untuk istrinya karena istrinya pernah berkata mereka tak punya tempat untuk menyimpan jambangan dan stoples. Sesudah membeli kayu seharga 30 dollar, dia memanggul kayu tersebut dan beranjak pulang.
Di tengah perjalanan dia melewati bengkel seorang pembuat mebel. Mata
pemilik bengkel sudah terlatih melihat kayu yang dipanggul lelaki itu.
Kayunya indah, warnanya bagus, dan mutunya terkenal. Kebetulan pada waktu itu ada pesanan mebel. Dia menawarkan uang sejumlah 100 dollar kepada lelaki itu.
Terlihat ragu-ragu di mata laki-laki itu, namun pengrajin itu meyakinkannya dan dapat menawarkannya mebel yang sudah jadi agar dipilih lelaki itu. Kebetulan di sana ada lemari yang pasti disukai istrinya. Dia menukar kayu tersebut dan meminjam sebuah gerobak untuk membawa lemari itu. Dia pun segera membawanya pulang.

Di tengah perjalanan dia melewati perumahan baru. Seorang wanita yang sedang mendekorasi rumah barunya melongok keluar jendela dan melihat lelaki itu mendorong gerobak berisi lemari yang indah. Si wanita terpikat dan menawar dengan harga 200 dollar. Ketika lelaki itu nampak ragu-ragu, si wanita menaikkan tawarannya menjadi 250 dollar. Lelaki itupun setuju. Kemudian mengembalikan gerobak ke pengrajin dan beranjak pulang.
Di pintu desa dia berhenti sejenak dan ingin memastikan uang yang ia terima. Ia merogoh sakunya dan menghitung lembaran bernilai 250 dollar. Pada saat itu seorang perampok keluar dari semak-semak, mengacungkan belati, merampas uang itu, lalu kabur.
Istri si lelaki kebetulan melihat dan berlari mendekati suaminya seraya berkata, “Apa yang terjadi? Engkau baik saja kan? Apa yang diambil oleh perampok tadi?”
Lelaki itu mengangkat bahunya dan berkata, “Oh, bukan apa-apa. Hanya sebuah koin penyok yang kutemukan tadi pagi”.
Bila Kita sadar kita tak pernah memiliki apapun, kenapa harus tenggelam dalam kepedihan yang berlebihan?
Kisah berikut, diadaptasi dari The Healing Stories karya GW Burns.

Senin, 21 Februari 2011

Hidup Adalah anugerah



Pada suatu hari ada seorang gadis buta yg sangat membenci dirinya sendiri. Karena kebutaannya itu. Tidak hanya terhadap dirinya sendiri, tetapi dia juga membenci semua orang kecuali kekasihnya.

Kekasihnya selalu ada disampingnya untuk menemani dan menghiburnya. Dia berkata akan menikahi gadisnya itu kalau gadisnya itu sudah bisa melihat dunia.


Suatu hari, ada seseorang yang mendonorkan sepasang mata kepada gadisnya itu Yang akhirnya dia bisa melihat semua hal, termasuk kekasih gadisnya itu .


Kekasihnya bertanya kepada gadisnya itu , ” Sayangggg … sekarang kamu sudah bisa melihat dunia. Apakah engkau mau menikah denganku?” Gadis itu terguncang saat melihat bahwa kekasihnya itu ternyata buta. Dan dia menolak untuk menikahi si pria pacar-nya itu yg selama ini sudah sangat setia sekali mendampingi hidupnya selama si gadis itu buta matanya.


Dan akhirnya si Pria kekasihnya itu pergi dengan meneteskan air mata, dan kemudian menuliskan sepucuk surat singkat kepada gadisnya itu, “Sayangku, tolong engkau jaga baik-baik ke-2 mata yg telah aku berikan kepadamu.”


* * * * *


Kisah di atas memperlihatkan bagaimana pikiran manusia berubah saat status dalam hidupnya berubah. Hanya sedikit orang yang ingat bagaimana keadaan hidup sebelumnya dan lebih sedikit lagi yang ingat terhadap siapa harus berterima kasih karena telah menyertai dan menopang bahkan di saat yang paling menyakitkan.


Hari ini sebelum engkau berpikir untuk mengucapkan kata- kata kasar Ingatlah akan seseorang yang tidak bisa berbicara.


Sebelum engkau mengeluh mengenai cita rasa makananmu, Ingatlah akan seseorang yang tidak punya apapun untuk dimakan.


Sebelum engkau mengeluh tentang suamimu, ingatlah akan seseorang yang menangis kepada Tuhan untuk meminta penyembuhan sehingga suaminya TIDAK LUMPUH seumur hidup.


Hari ini sebelum engkau mengeluh tentang hidupmu, Ingatlah akan seseorang yang begitu cepat pergi ke alam kubur dengan masih menyertakan kemiskinannya.


Sebelum engkau mengeluh tentang anak-anakmu Ingatlah akan seseorang yang begitu mengharapkan kehadiran seorang anak, tetapi tidak mendapatnya.


Dan ketika engkau lelah dan mengeluh tentang pekerjaanmu Ingatlah akan para penganguran, orang cacat dan mereka yang menginginkan pekerjaanmu.


Dan ketika beban hidup tampaknya akan menjatuhkanmu, pasanglah senyuman di wajahmu dan berterima kasihlah pada Tuhan karena engkau masih hidup dan ada di dunia ini.


Hidup adalah anugerah, syukurilah, jalanilah, nikmatilah dan isilah hidup ini dengan sesuatu yg bermanfaat untuk umat manusia.


NIKMATILAH dan BERI YANG TERBAIK DI SETIAP DETIK DALAM HIDUPMU, KARENA ITU TIDAK AKAN TERULANG LAGI untuk waktumu selanjutnya !!!

sumber :http://www.resensi.net/hidup-adalah-anugerah/2008/12/05/ 

Jumat, 18 Februari 2011

Do'aku

Dimalam sepi kupanjatkan Do'a :
Ya Allah....
Ketika aku merindukan bidadariku
Rindukanlah aku kepada cinta sejati Mu
Agar kerinduanku kepadaMu semakin menjadi
Ya Allah...
Ketika aku jatuh cinta
Jagalah cinta itu
agar tidak melebihi cintaku padaMu
Ya Allah...
Ketika aku berucap " aku cinta padamu bidadariku"
Biarlah kukatakan kepada yang hatinya tertaut kepadaMu
Agar aku jatuh dalam cinta karenaMu :-)

Kamis, 10 Februari 2011

KISAH TUKANG KAYU


Seorang tukang kayu tua bermaksud pensiun dari pekerjaannya di sebuah
perusahaan konstruksi real estate. Ia menyampaikan keinginannya tersebut
pada pemilik perusahaan. Tentu saja, karena tak bekerja, ia akan kehilangan
penghasilan bulanannya, tetapi keputusan itu sudah bulat. Ia merasa lelah.
Ia ingin beristirahat dan menikmati sisa hari tuanya dengan penuh kedamaian
bersama istri dan keluarganya.

Pemilik perusahaan merasa sedih kehilangan salah seorang pekerja terbaiknya.
Ia lalu memohon pada tukang kayu tersebut untuk membuatkan sebuah rumah
untuk dirinya.

Tukang kayu mengangguk menyetujui permohonan pribadi pemilik perusahaan itu.
Tapi, sebenarnya ia merasa terpaksa. Ia ingin segera berhenti. Hatinya tidak
sepenuhnya dicurahkan. Dengan ogah-ogahan ia mengerjakan proyek itu. Ia cuma
menggunakan bahan-bahan sekedarnya. Akhirnya selesailah rumah yang diminta.
Hasilnya bukanlah sebuah rumah baik. Sungguh sayang ia harus mengakhiri
kariernya dengan prestasi yang tidak begitu mengagumkan.

Ketika pemilik perusahaan itu datang melihat rumah yang dimintanya, ia
menyerahkan sebuah kunci rumah pada si tukang kayu. “Ini adalah rumahmu, ”
katanya, “hadiah dari kami.”

Betapa terkejutnya si tukang kayu. Betapa malu dan menyesalnya. Seandainya
saja ia mengetahui bahwa ia sesungguhnya mengerjakan rumah untuk dirinya
sendiri, ia tentu akan mengerjakannya dengan cara yang lain sama sekali.
Kini ia harus tinggal di sebuah rumah yang tak terlalu bagus hasil karyanya
sendiri.

Itulah yang terjadi pada kehidupan kita. Kadangkala, banyak dari kita yang
membangun kehidupan dengan cara yang membingungkan. Lebih memilih berusaha
ala kadarnya ketimbang mengupayakan yang baik. Bahkan, pada bagian-bagian
terpenting dalam hidup kita tidak memberikan yang terbaik. Pada akhir
perjalanan kita terkejut saat melihat apa yang telah kita lakukan dan
menemukan diri kita hidup di dalam sebuah rumah yang kita ciptakan sendiri.
Seandainya kita menyadarinya sejak semula kita akan menjalani hidup ini
dengan cara yang jauh berbeda.

Renungkan bahwa kita adalah si tukang kayu. Renungkan rumah yang sedang kita
bangun. Setiap hari kita memukul paku, memasang papan, mendirikan dinding
dan atap. Mari kita selesaikan rumah kita dengan sebaik-baiknya seolah-olah
hanya mengerjakannya sekali saja dalam seumur hidup. Biarpun kita hanya
hidup satu hari, maka dalam satu hari itu kita pantas untuk hidup penuh
keagungan dan kejayaan. Apa yang bisa diterangkan lebih jelas lagi. Hidup
kita esok adalah akibat sikap dan pilihan yang kita perbuat hari ini. Hari
perhitungan adalah milik Tuhan, bukan kita, karenanya pastikan kita pun akan
masuk dalam barisan kemenangan.

Pojok Renungan:
“Hidup adalah proyek yang kau kerjakan sendiri”. (Adapted from The Builder -
Cecilia Attal)
sumber. www.resensi.net